Showing posts with label Manajemen Media. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Media. Show all posts

Wednesday, 20 December 2017

RRI

RRI

Nama: Elhan Noor Auzan
NIM: 01716146257
Program Studi: Manajemen Informasi dan Komunikasi
Mata Kuliah: Manajemen Media
Dosen: Ibu Yolanda Presiana Desi, S.IP, MA


     Radio Republik Indonesia (RRI) adalah stasiun radio milik pemerintah Indonesia. RRI didirikan pada tanggal 11 September 1945. Slogan RRI adalah "Sekali di Udara, Tetap di Udara".

     RRI adalah satu-satunya radio yang menyandang nama negara yang siarannya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara. RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan tidak komersial yang berfungsi memberikan pelayanan siaran informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasional.

     Besarnya tugas dan fungsi RRI yang diberikan oleh negara melalui UU no 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, PP 11 tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik, serta PP 12 tahun 2005,  RRI  dikukuhkan sebagai satu-satunya lembaga penyiaran  yang dapat berjaringan secara nasional  dan dapat bekerja sama dalam siaran dengan lembaga penyiaran Asing.

     Dengan kekuatan  62 stasiun penyiaran termasuk Siaran Luar Negeri dan 5 (lima) satuan kerja (satker) lainnya yaitu Pusat Pemberitaan, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbangdiklat) Satuan Pengawasan Intern, serta diperkuat 16 studio produksi serta 11 perwakilan RRI di Luar negeri  RRI memiliki 61 (enampuluh satu) programa 1, 61 programa 2, 61 programa 3, 14 programa 4 dan 7 studio produksi maka RRI setara dengan 205 stasiun radio.

     RRI sejak orde baru diganti Reformasi, RRI mengalami perkembangan secara struktural. RRI berubah ketika departemen penerangan dibubarkan. Pada saat itu tidak punya payung hukum, sedangkan dulu RRI sebagai lembaga penyiaran dibawah Departeman Penerangan. Setelah Departemen Penerangan dibubarkan, RRI masuk ke kementrian keuangan dibawah Dirjen BUMN, maka pada saat pertama menjadi PERJA, lalu menjadi hanya dibawah kementrian keuangan. Setelah dibawah kementrian keuangan cukup lama, keluarlah UU Penyiaran No. 32 tahun 2002.

     RRI diakhir Orde Baru merasa persaingan antarmedia pada saat itu sudah sangat kuat. Tahun 1997, dengan 450 karyawan, siaran RRI hanya 1, menyasar anak-anak kecil hingga orang tua. Pada akhir Orde Baru, RRI membuka Pro 2 sedangkan RRI Yogya Pro 3. RRI Yogya dengan 230 karyawan mengelola 4 studio penyiaran. Pro 1 dengan target audien anak kecil hingga orang tua namun lebih ke informasi. Pro 2 khusus anak muda, namun semakin sedikit audiensnya. Pro 3 sebagai jaringan berita nasional. Dan Pro 4 khusus budaya.

     Bulan November kemarin, direktur utama RRI meminta semua penyelenggara Pro 4 melakukan reformasi didalam program-programnya. 'Bagaimana cara anak muda tertarik pada budaya?' adalah sasaran utama mereka. Maka, yang akan menjadi penyiar utama Pro 4 adalah anak muda. Sebagai lembaga penyiaran publik RRI yang dipercaya satu-satunya radio yang menyandang nama 'Republik Indonesia' punya tanggung jawab sebagai media yang mewariskan budaya. Bagi RRI itu merupakan tugas berat, karena anak muda saat ini tidak begitu peduli pada budaya. Pengaruh RRI terhadap publik tidaklah terlalu besar.

     Ditengah persaingan antar media sekarang konvergensi menjadi satu cara memperkuat persaingan. Harus bermain di berbagai lingkungan, tidak bisa hanya mengandalkan frekuensi siaran konvensional. Maka salah satunya RRI bermain di streaming. Dan manajemen RRI sudah mempersiapkannya dengan baik dengan cara menyiapkan aplikasi streaming yang sudah terintegrasi RRI seluruh Indonesia, mulai dari Pro 1, Pro 2, dll.

     Salah satu upaya untuk mengelola program setiap tahun yaitu setiap bulan november RRI melakukan evaluasi. Diakhir tahun 2018, RRI akan mengadakan program baru yaitu 'SKS', siarannya anak kampus dan anak sekolah. Siswa SMP, SMA, SMK dan mahasiswa akan digilir untuk menjadi penyiar. RRI menyebutnya sebagai strategi komunikasi untuk mendekatkan RRI kepada publik. RRI membuka setiap proposal kegiatan mahasiswa selama tidak komersial itu gratis.

     Setiap program RRI menyiapkan break in time yang isinya iklan masyarakat, lagu. Jadi setiap 60 menit, break in time ada 4. Setiap hari, dalam perencanaan program, RRI punya 2 panduan, yang pertama ada DAS (Daftar Acara Siaran), dan yang kedua ada Traffic.


FORMAT PROGRAMA 2
VISI PROGRAMA :
Pusat Kreativitas Anak Muda

FORMAT PROGRAMA :
Musik dan Informasi

PERNYATAAN PROGRAMA :
Suara Kreatifitas

SEBUTAN PROGRAMA :
Pro 2 RRI Jogja

SEMBOYAN INSTITUSI :
Sekali di udara tetap di udara

SASARAN KHALAYAK :
12 s/d 25 Tahun

PENDIDIKAN :
SLTP s/d Sarjana


JENIS KELAMIN :
Pria dan Wanita


SES (STRATA EKONOMI SOSIAL) :
B dan C


SASARAN WILAYAH :
Kota Jogja, DIY, dan sekitarnya


SAPAAN :
Sahabat Kreatif


PRONOMINA PERSONA ORANG :
Sahabat


POLA PROGRAM :
Block system dan Capsule system dengan pendekatan Narrowcasting


KLASIFIKASI DAN PRESENTASI SIARAN :
  • Berita dan Informasi (30%)
  • Hiburan (40%)
  • Kebudayaan (10%)
  • Pendidikan (10%)
  • Iklan dan Penunjang (10%)
MUSIK :
  • Indonesia (70%) terdiri dari label 90% (perhari diputar sekitar 144 lagu) dan Indie 10% (perhari diputar 16 lagu)
  • Barat/Mancanegara (30%) perhari sekitar 68 lagu

VISI LPP RRI:
Terwujudnya RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang terpercaya dan mendunia


MISI LPP RRI
  1. Memberikan pelayanan informasi terpecaya yang dapat menjadi acuan dan ssarana kontrol sosial masyarakat dengan memperhatikan kode etik jurnalistik/kode etik penyiaran. Mengembangkan siaran pendidikan untuk mencerahkan, mencerdaskan, dan memberdayakan serta mendorong kreatifitas masyarakat dalam kerangka membangun karaktek bangsa.
  2. Menyelenggarakan siaran yang bertujuan menggali,  melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa, memberikan hiburan yang sehat bagi keluarga, membentuk budi pekerti dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
  3. Menyelenggarakan program siaran berperspektif gender yang sesuai dengan budaya bangsa dan melayani kebutuhan kelompok minoritas.
  4. Memperkuat program siaran di wilayah perbatasan untuk menjaga kedaulatan NKRI
  5. Meningkatkan kualitas siaran luar negeri dengan program siaran yang mencerminkan politik negara dan citra positif bangsa.
  6. Meningkatkan partisipasi publik dalam proses penyelenggaraan siaran mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program siaran.
  7. Meningkatkan kualitas audio dan memperluas jangkauan siaran secara nasional dan internasional dengan mengoptimalkan sumberdaya teknologi yang ada dan mengadaptasi perkembangan teknologi penyiaran serta mengefisienkan pengelolaan operasional maupun pemeliharaan perangkat teknik.
  8. Mengembangkan organisasi yang dinamis, efektif, dan efisien dengan sistem manajemen sumber daya (SDM, keuangan, asset, informasi dan operasional) berbasis teknologi informasi dalam rangka mewujudkan tata kelola lembaga yang baik ( good corporate governance)
  9. Meningkatkan kualitas siaran luar negeri dengan program siaran yang mencerminkan politik negara dan citra positif bangsa.
  10. Memberikan pelayanan jasa-jasa yang terkait dengan   penggunaan dan pemanfaatan asset negara secara profesional  dan akuntabel serta menggali sumber-sumber penerimaan lain untuk mendukung operasional siaran dan meningkatkan  kesejahteraan pegawai.

TUGAS POKOK LPP RRI
     Memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran radio yang mengjangkau seluruh wilayah NKRI. (PP.12/2005. Ps. 4).


     Tugas LPP RRI dalam melayani seluruh lapisan masyarakat di seluruh wilayah NKRI tidak bisa dilayani dengan satu programa saja, oleh karena itu RRI menyelenggarakan siaran dengan 4 programa:
  1. Pro 1: Pusat siaran pemberdayaan masyarakat Pro 2: Pusat siaran kreatifitas anak muda 
  2. Pro 3: Pusat siaran jaringan berita nasional dan kantor berita radio 
  3. Pro 4: Pusat siaran budaya dan pendidikan 
  4. VOI: Citra & Martabat bangsa didunia internasional siaran setiap hari dengan 8 bahasa asing 
  5. Studio Produksi LN: Jembatan informasi Indonesia - LN dan LN - Indonesia
     Sebagai sumber informasi terpercaya sesuai dengan prinsip lembaga penyiaran publik, dalam menyelenggaran siaran RRI berpedoman pada nilai-nilai standar penyiaran :
  1. Siaran bersifat independet dan netral 
  2. Siaran harus memihak pada kebenaran 
  3. Siaran member pemahaman 
  4. Siaran mengurangi ketidakpastian 
  5. Siaran berpedoman pada pancasila, UUD 1945 dan kebenaran, serta peraturan yang lainnya. 
  6. Siaran harus memihak hanya kepada kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia Siaran harus menjaga persatuan, kesatuan dan Kedaulatan NKRI

Peran dalam Pemberdayaan Masyarakat: RRI menyelenggarakan siaran pemberdayaan masyarakat di semua lapisan masyarakat melalui siaran pedesaan, nelayan, wanita, anak-anak, siaran lingkungan hidup, kewirausahaan, teknologi tepat guna, kerajinan, perdagangan, pertanian, koperasi, industri kecil dll.


Peran RRI sebagai Pelestari Budaya Bangsa: Seluruh RRI wajib menyelenggarakan siaran seni dan budaya daerah seluruh indonesia secara konsisten dan tidak pernah berhenti seperti siaran ketoprak,wayang orang, wayang golek, madihin, saluang dan budaya minang lainnya, budaya bugis, dan budaya daerah-daerah lainnya.


Peran RRI sebagai pelestari lingkungan: RRI menyelenggarakan siaran Green Radio untuk penanaman kembali dan Re Use, Reduce dan Recycling dengan berbagai format dan variasi bentuk acara.


Peran RRI sebagai media pendidikan: RRI menyelenggarakan siaran pendidikan dari Taman Kanak-Kanak sampai Mahasiswa. RRI menyelenggarakan Pekan Kreatif dengan mengadakan lomba kreatif remaja seperti lomba cipta lagu, lomba cipta design , lomba IT, lomba band indie, bintang radio,  pekan tilawatil quran. Disamping itu juga menyelenggarakan siaran pendidikan social masyarakat, seperti siaran wanita, siaran pedesaan, siaran KB dll.


Peran RRI sebagai Media Diplomasi: RRI menyelenggarakan siaran radio diplomasi melalui siaran luar negeri untuk membangun citra positif bangsa didunia internasional bekerjasama dengan kedutaan dan radio luar negeri dengan siaran yang bersifat reciprocal. Kerjasama siaran dengan ABC, NHK, RTM, RTB, KBS, RTH, SR, BBC, Radio Jedah, Radio Turki, RCI, DW dll.


Peran RRI sebagai media terdepan tanggap bencana: RRI menyelenggarakan siaran langsung dari tenda darurat melalui Radio Based Disaster Management. Setiap ada bencana dalam waktu tidak lebih dari 24 jam RRI harus sudah melaporkan, kemudian diikuti program Pelipur Lara korban bencana dan trauma healing dengan mendirikan studio darurat.


Peran RRI dalam menghubungkan tenaga kerja di Luar Negeri: RRI menyelenggarakan siaran rutin dan terkoneksi dengan 7 negara yaitu  Hongkong, Malaysia, Brunei Darusalam, Jepang, Taiwan, Korea dan Arab Saudi untuk mendekatkan TKI dengan kampung halaman. Pendengar RRI di luar negeri khususnya TKI berjumlah puluhan ribu orang yang mendengar melalui audio streaming. Dalam rangka mewujudkan peran second track diplomacy menyelenggarakan acara Diplomatic Forum. Untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia di Luar negeri khususnya tenaga kerja Indonesia antara lain diselenggarakan acara bilik sastra yang diperlrlombakan dan 2 pemenang dihadirkan oleh SLN untuk menghadiri acara uapacara kenegaraan 17 Agusdtus di Istana negara dan sidang DPR dan DPD di Senayan.


Peran RRI sebagai media hiburan: RRI menyelenggarakan siaran hiburan berupa siaran music dan kata, pagelaran musik klasik yaitu orkes symphony Jakarta dan orkes symphony yang dimiliki RRI daerah. Pagelaran kesenian dan budaya, lawak, Quiz dll.


Peran RRI dalam sabuk pengaman informasi (Information Safety Belt): selama tahun 2009 - 2010 RRI telah mendirikan studio di wilayah perbatasan dan daerah terpencil atau blankspot, antara lain: Entikong, Batam, Nunukan, Putusibaou, Malinau, Atambua, Ampana, Boven Digoel, Kaimana, Skow, Oksibil, Takengon, Sabang dan Sampang. Siaran melalui studio-studio produksi ini ditujukan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan memberikan akses informasi yang berimbang bagi masyarakat di daerah perbatasan maupun di daerah-daerah yang sebelumnya tidak dapat menerima siaran RRI atau blankspot.
Continue reading RRI

Thursday, 30 November 2017

TVRI Dulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang

Didirikan pada tanggal 24 agustus 1962, TVRI merupakan stasiun televisi pertama yang ada di Indonesia. Siaran perdana dari stasiun televisi ini menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-17. 

TVRI memonopoli siaran televisi di Indonesia sebelum tahun 1989 ketika didirikan televisi swasta pertama RCTI di Jakarta, dan SCTV pada tahun 1990 di Surabaya. 

TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah Indonesia mepunyai slogan yang terus berubah seiring perubahan zaman. Seperti, Menjalin Persatuan dan Kesatuan (1962-2001), Makin Dekat di Hati (2001-2005), Televisi Republik Indonesia (2005-2012), dan Saluran Pemersatu Bangsa (2012-sekarang). 

Siaran dan acara televisi di TVRI jaman dulu jauh lebih berkualitas dari siaran televisi jaman sekarang. Secara kualitas siaran baik gambar maupun suara, mungkin memang jauh beda. Karena memang teknologi penyiaran dan peralatan antara TVRI dan televisi masa kini bagaikan bumi dan langit. Tetapi dari sisi kualitas isi acara, TVRI jauh diatas TV nasional saat ini. 

Acara di TVRI era 80 dan 90an adalah acara yang cukup lengkap dengan kualitas isi yang dapat dibanggakan.Hampir semua segmen masyarakat mendapat porsi dalam daftar acara yang dikemas di televisi pemerintah itu. Mulai anak, anak, remaja, orang tua, petani, nelayan, pelajar, hingga pengusaha. Acara di TVRI terlihat dirancang dengan sangat cermat dan sedemikian rupa sehingga mengena di seluruh lapisan masyarakat. 

Hebatnya lagi, TVRI cukup jeli dalam menyusun dan meracik acara. Bagaimana mereka meletakkan sebuah acara pada waktu dan tempat yang tepat. Berita, drama keluarga (sekarang mungkin seperti sinetron), bincang-bincang (sekarang seperti talk show), kuis, acara musik, berbagai genre film sampai acara anak anak tersaji lengkap dalam tayangan televisi andalan orde baru itu. 

Acara yang ditayangkan TVRI pada zaman sekarang lebih berfokus pada hiburan. Meski lebih berfokus pada hiburan, masyarakat lebih tertarik pada stasiun televisi lain dikarenakan acara yang lebih menarik menurut masyarakat. 

Minat masyarakat di masa yang akan datang pada TVRI tidak akan berubah bahkan semakin menurun jika TVRI tidak melakukan perubahan pada acara yang ditayangkannya.

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_Republik_Indonesia
https://www.kompasiana.com/almboelaxsy/tvri-apa-kabarmu-kini_55d5a9e5b07e61060955e20d
Continue reading TVRI Dulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang

Monday, 23 October 2017

Makalah Manajemen Media


Majalah Gatra dan Sejarahnya
Terkait pembredelan 21 Juni 1994

Continue reading Makalah Manajemen Media

Sunday, 15 October 2017

Radio Rodja


Radio Rodja

Radio Rodja
Logo Radio Rodja


Nama: Elhan Noor Auzan
NIM: 01716146257
Program Studi: Manajemen Informasi dan Komunikasi
Mata Kuliah: Manajemen Media
Dosen: Ibu Yolanda Presiana Desi, S.IP, MA

Radio Rodja adalah stasiun radio swasta yang beraliran Islam, beralamat Jl. Pahlawan Kp. Tengah Rt. 03 Rw. 03 Cileungsi - Bogor 16820, mengudara pada frekuensi 756 AM untuk wilayah Jabodetabek. Selain itu siaran radio ini juga mengudara di beberapa Kota seperti Bandung, Kebumen, Tanjungpinang, Pontianak, Lampung dan Berau. Siaran Radio ini umumnya memberi kajian kajian dakwah mengenai kehidupan sehari-hari. Radio ini memiliki moto ‘menebar cahaya sunnah’. Rodja merupakan singkatan dari ‘Radio Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah’. Kebanyakan anggota kelompok ini menjadi mentor Agama di sekolah-sekolah. Agus Hasannudin, direktur utama PT Radio Rodja, mengatakan inisiator Rodja adalah para pemuda Masjid Al Barkah.

Radio Rodja dimulai dari sebuah radio FM komunitas yang dirintis sejak awal 2005. Dan mulai mengudara untuk diujicoba pada Maret 2005. Melihat animo masyarakat yang besar terhadap radio ini, maka Radio Rodja secara resmi mengudara pada frekuensi 756 kHz (AM) di tahun 2007. Tepatnya pada Mei 2007, Radio Rodja mengujicoba siarannya melalui frekuensi 756 AM. Sejak melakukan migrasi ke gelombang AM, Radio Rodja mengalami kemajuan pesat. Hal itu akibat karakteristik dari sinyal AM yang memiliki daya jangkau jauh lebih luas daripada sinyal FM. Radio Rodja dapat menjangkau pendengar dari berbagai wilayah baik dari radio analog (756 AM) maupun radio streaming. Jangkauan frekuensinya merentang dari Jabodetabek hingga ke Cikampek.

Maksud dan tujuan didirikannya Radio Rodja adalah untuk menumbuhkan semangat dan kecintaan kaum muslimin terhadap ilmu-ilmu Islam dan memenuhi kebutuhan kaum muslimin dalam penyebaran dakwah dan informasi.

Visi Radio Rodja yaitu untuk menjadi media dakwah Islam yang Istiqomah menyampaikan Tasfiyyah dan Tarbiyyah dengan senantiasa merujuk kepada pemahaman generasi pertama dan utama umat ini.

Sedangkan Misi dari Radio Rodja sebagai berikut:
1. Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shalih.
2. Pemurnian Syariat Islam dari segala bentuk syirik,bid’ah dan pemikiran sesat.
3. Membina kaum muslimin dengan ajaran Islam yang murni dan beramal dengannya.
4. Menghidupkan metode ilmiah dengan berdasar kepada Al Quran dan As Sunnah sesuai pemahaman salafus Shalih.

Radio Rodja dalam penyelenggaraan penyiarannya diformat sebagai media Dakwah dan Informasi Islam.

Radio Rodja frekuensi AM: 756 kHz (Jabodetabek)
Radio Rodja via streaming: https://www.radiorodja.com
Radio Rodja via satelit (dengan parabola): Satelit Palapa D
Frekuensi: 4057 MHz
Symbol Rate: 2727 kSps / kHz
Polaritas: H (Horizontal)
Audio PID: 110
PCR PID: 109

Radio Rodja
Seluk Beluk Radio Rodja


Bagaimana Radio Rodja Bersaing Dengan yang Lain di zaman Ini
Globalisasi tidak mengenal batas-batas negara. Begitu juga dengan media yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh globalisasi. Program-program televisi dan produk rekaman juga terus bermunculan tanpa dapat dibendung.

Majunya perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia informasi dan komunikasi saat ini. Seperti halnya dengan dunia industri komunikasi massa yang terus mengalami perubahan.

Masyarakat kini cenderung senang mengakses informasi yang mudah dijangkau, interaktif dan dekat dengan mereka seperti media online maupun media elektronik seperti televisi dan radio. Namun, persaingan didalam media itu sendiri sangatlah ketat. Sehingga untuk membuat radio maupun tv untuk tetap hidup di zaman ini, diperlukan strategi yang baik.

Dalam hal ini, Radio Rodja yang telah berdiri sejak tahun 2005 meluncurkan stasiun televisi dakwah Islam yang mengudara melalui streaming Internet (TV streaming) pada tahun 2009 yang bernama RodjaTV. Radio Rodja juga meluncurkan situs yang bisa digunakan untuk streaming radio maupun televisi.

Untuk bisa bertahan, siaran-siaran Rodja mengandalkan sumbangan pendengar sehingga bisa menjalankan operasional harian tanpa iklan.

Dari strategi-strategi tersebut, dapat disimpulkan Radio Rodja masih bisa bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama mengingat animo masyarakat terhadap Radio Rodja, dan kebutuhan akan informasi-informasi mengenai Islam cukup besar.

Sumber:

Continue reading Radio Rodja

Saturday, 7 October 2017

Data Teknis Majalah Gatra


Majalah Gatra
Oleh : Elhan Noor Auzan
NIM : 01716146257
Program Studi : Manajemen Informasi dan Komunikasi
Mata Kuliah : Manajemen Media
Dosen : Ibu Yolanda Presiana Desi, S.IP, MA

Majalah berita Gatra terbit sejak 13 Oktober 1994 dengan format majalah berita mingguan. Pendirian majalah berita ini tak lepas dari kontroversi pembredelan Majalah Tempo oleh pemerintah Orde Baru. Majalah berita mingguan ini didirikan oleh sempalan anggota redaksi Majalah Tempo yang pro Orde Baru. Sementara yang kontra Orde Baru tetap bertahan di Majalah Tempo.
GATRA - Sebuah kata yang diambil dari khasanah bahasa bangsa, tidak mencerminkan simbol golongan, mudah diingat, mulus diucapkan, singkat ditulis, lancar dilisankan, bersahaja dengan makna : wujud, sudut pandang.
Rubrikasi GATRA
Dijabarkan ke dalam paket Majalah Berita Mingguan, GATRA meracik rubrikasinya demi memuaskan hajat informasi semua golongan. Mulai dari skala nasional, regional, dan internasional. Mulai dari berita politik sampai tinjauan seni dan budaya. Dari olahraga sampai ilmu dan teknologi. Dari ekonomi sampai kesehatan. Dari hukum sampai hiburan. Setiap nomor bertajukkan Laporan Utama yang lengkap, dalam, tuntas, dan berimbang. Mengangkat isu aktual dari segala sisi kehidupan.
Seperti namanya, GATRA juga menyajikan berita melalui penulisan yang bersahaja dan jernih. GATRA tak hanya merujuk kepada bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi juga kepada bahasa yang hidup, lentur, bergerak lincah di tengah masyarakat pembaca.
VISI MISI
  • Membangun industri informasi menuju masyarakat yang cerdas, berakhlak, dan sadar akan hak dan kewajibannya, serta mendorong tegaknya hukum yang berkeadilan.
  • Menyajikan produk informasi yang terpercaya, mencerdaskan, obyektif, akurat, jujur, jernih, berakhlak, dan berimbang.
  • Meningkatkan hasil usaha dengan cara yang sehat, adil, efisien, efektif, inovatif, tumbuh dan disegani dalam bisnis global.
  • Meningkatkan mutu pelayanan untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pembaca.
Data Teknis:
  • Oplah : 110.000 Eksemplar
  • Frekuensi Terbit : Mingguan
  • Harga : Rp 45.000
Peta Distribusi Majalah GATRA
  • Jabodetabek : 58,9%
  • Aceh dan Sumatera Utara : 7%
  • Jateng & DIY : 5,7%
  • Jawa Barat : 5,6%
  • Sumatera Barat : 4,6 %
  • Kalimantan : 4%
  • Jawa Timur : 3,7%
  • Sulawesi : 3%
  • Sumatera Selatan : 3%
  • Maluku dan Papua : 2%
  • Bali dan Nusa Tenggara : 1,4%
  • Luar Negeri : 1,1%
Profil Pembaca
  • Laki-laki : 80,8%
  • Perempuan : 19,2%
Usia:
  • >50 tahun : 28,9%
  • 40-50 tahun : 39,8%
  • 30-39 tahun : 21,1%
  • 20-29 tahun : 10,2%
Pendidikan:
  • S3 : 8,6%
  • S2 : 21,9%
  • S1 : 36,7%
  • D1 : 17,2%
  • SMA : 15,6%
Iklan Display Per Kavling
  • Iklan Advetorial (BW) 1 Halaman, Ukuran 210x275Mmk Rp. 27.500.000
  • Iklan Advetorial (FC) 1 Halaman, Ukuran 210x275Mmk Rp. 47.000.000
  • Iklan berhadapan (Facing Pages) (FC), Ukuran 410x275Mmk Rp. 80.000.000
  • Iklan Cover 2 (FC)1 Halaman, Ukuran 210×275 Mmk Rp. 45.000.000
  • Iklan Cover 3 (FC)1 Halaman, Ukuran 210×275 Mmk Rp. 40.500.000
  • Iklan Cover 4 (FC)1 Halaman, Ukuran 210×275 Mmk Rp. 55.000.000
  • Iklan Display (BW) 1/2 Halaman Horizontal, Ukuran 210x135Mmk Rp. 13.500.000
  • Iklan Display (BW) 1/2 Halaman Vertikal, Ukuran 105x275Mmk Rp. 13.500.000
  • Iklan Display (BW)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 20.500.000
  • Iklan Display (FC) 1/2 Halaman Horizontal, Ukuran 210x135Mmk Rp. 27.000.000
  • Iklan Display (FC) 1/2 Halaman Vertikal, Ukuran 105x275Mmk Rp. 27.000.000
  • Iklan Display (FC) 1/3 Halaman Vertical, Ukuran 70x275Mmk Rp. 19.250.000
  • Iklan Display (FC)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 41.500.000
  • Iklan Gate Folder Cover 2 Halaman Dalam (FC), 1x Penayangan Rp. 115.500.000
  • Iklan Gate Folder Cover 3 Halaman Dalam (FC), 1x Penayangan Rp. 154.000.000
  • Iklan Halaman 3 (FC)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 49.500.000
  • Iklan Halaman 5 (FC)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 45.000.000
  • Iklan Halaman 7 (FC)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 43.000.000
  • Iklan Halaman 9 (FC)1 Halaman,Ukuran 210×275 Mmk Rp. 42.000.000
Bagaimana Menghadapi Persaingan Media Cetak Yang Berat
Globalisasi tidak mengenal batas-batas negara. Begitu juga dengan media yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh globalisasi. Indonesia merupakan salah satu negara yang diinduksi muncul majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia. Program-program televisi dan produk rekaman juga terus bermunculan tanpa dapat dibendung.
Majunya perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia informasi dan komunikasi saat ini. Seperti halnya dengan dunia industri komunikasi massa yang terus mengalami perubahan. Keberadaan media cetak dianggap segera berakhir karena dinilai tidak akan banyak berpengaruh lagi. Berbeda dengan masa lampau dimana koran menjadi bahan bacaan utama untuk semua kalangan. Beragam faktor yang diindikasikan menjadi pemicu anggapan bila industri media cetak tak banyak yang akan bertahan.
Masyarakat kini cenderung senang mengakses informasi yang mudah dijangkau, interaktif dan dekat dengan mereka seperti media online maupun media elektronik seperti televisi dan radio.
Dengan demikian industri media cetak harus mengatur strategi dalam menghadapi tantangan persaingan di era konvergensi media ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh media cetak adalah:
  • Menancapkan Dua Kaki Pada Bisnis Penjualan Offline Maupun Online
Perusahaan harus melihat kembali dimana pangsa pasar yang akan diambil. Jika pangsa pasar yang diambil adalah masyarakat dengan umur 20-40 tahun, maka penekanan untuk masyarakat dengan umur 20-35 harus melalui online. Karena generasi tersebut sudah mahir menggunakan teknologi dan menganggap kuno untuk hal-hal yang bersifat hardcopy. Sedangkan untuk masyarakat dengan umur 36-40 tahun, kebanyakan dari mereka lebih nyaman membaca dalam bentuk cetak. Hal ini telah dilakukan oleh majalah Gatra dengan membuat situs gatra.com dengan judul situs tersebut adalah GatraNews, dan menyajikan berita ke situs tersebut.
  • Membuat kolom iklan di media online maupun cetak
Iklan menjadi sumber modal perusahaan industri media cetak demi keberlangsungan hidupnya. Membuat kolom iklan dapat membantu sebuah media untuk terus bertahan. Di gatra.com sendiri sudah ditawarkan kolom iklan untuk pengiklan di Indonesia. Sayangnya, sejauh ini belum terlihat iklan yang hadir di gatra.com
  • Revitalisasi Organisasi
Revitalisasi organisasi berarti sebuah cara untuk menghidupkan kembali organisasi menurut Danisworo (2002) adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu hal yang dulunya pernah vital atau hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran atau degradasi, selanjutnya Gouillart dan Kelly (1995) mendefinisikan revitalisasi sebagai upaya mendorong pertumbuhan dengan mengaitkan organisasi kepada lingkungannya, hal ini selaras dengan pernyataan Asbhy (1999) Revitalisasi adalah mencakup perubahan yang dilaksanakan secara Quantum Leap, yaitu lompatan besar yang tidak hanya mencakup perubahan bertahap atau incremental, melainkan langsung menuju sasaran yang jauh berbeda dengan kondisi awal organisasi”
Salah satu kegiatan revitalisasi adalah restrukturisasi. Restrukturisasi organisasi harus dipahami sebagai salah satu upaya kebijakan untuk membentuk sebuah sistem pengelolaan yang efektif dan efisien, tanggap dan cekatan, serta terbuka dan bertanggung jawab.
  • Mengurangi jumlah oplah media cetak
Pertimbangan mengurangi jumlah oplah media cetak dapat menjadi jawaban lain mempertahankan industri media cetak. Alasan tersebut diantaranya yaitu karena alasan komersial dimana mengutamakan pembaca terdidik dan memiliki daya. Faktor minat baca yang rendah terutama di daerah terpencil juga menjadi alasan lainnya namun berdampak pada segmentasi khalayak media menjadi lebih khusus. Faktor internal seperti biaya produksi yang tinggi serta kurangnya sumber daya manusia yang professional juga menjadi pertimbangan dalam menentukan jumlah oplah media cetak. Penentuan jumlah oplah sangat bergantung pula pada biaya modal yang dimiliki agar tercipta efisiensi dan efektivitas.
Dari poin-poin tersebut dapat disimpulkan industri media cetak terutama media Gatra masih akan dapat bertahan mengingat adanya kebutuhan pembacaan informasi yang akurat dan mendalam bagi sebagian pembaca. Meskipun demikian, perusahaan media Gatra harus tetap mengatur strategi dalam menghadapi tantangan persaingan di era konvergensi media ini, dan gatra.com merupakan salah satu jawaban terhadap tantangan tersebut.
Sumber
Continue reading Data Teknis Majalah Gatra